Review Book - Kami (Bukan) Sarjana Kertas by J.S. Khairen


Kami (Bukan) Sarjana Kertas Review




[Mini Review]

Judul : Kami (Bukan) Sarjana Kertas
Penulis : J. S. Khairen
Penerbit.       : PT. Bukune Kreatif Cipta
Terbit             : 2019
Halaman : vi + 358 halaman
ISBN : 978-620-220-304-9


“Di mana musuh kita berada? Dalam jiwa kita sendiri. Cara melakukannya? Engkau sendiri yang tahu, kawan.”
.
Di setiap episode dalam buku ini dibubuhkan kutipan yang menurut saya sangat bermakna. Novel ini sangat menarik untuk dibaca para pelajar dan mahasiswa. Terutama untuk mahasiswa yang mimpinya masih mengambang ingin ke mana setelah lulus nanti. Buku ini layak dibaca karena memberikan amanat yang sangat bagus. “Jangan pernah ragukan dirimu. Dunia ini memang penuh lika-liku. Hidup yang penuh goncangan itu punya seninya sendiri.”

Karakter yang dibangun penulis dalam novel ini seakan nyata, dan nyaris membuatku hanyut. Kerap kali aku berdecak dan mengangguk. “Ah, ini aku sekali.” Tulisannya dikemas dengan apik dan penuh pelajaran. Novel ini menceritakan tentang si Ogi yang saat itu enggan untuk kuliah di UDEL. Dia kuliah hanya mengikuti Ranjau saja, sahabatnya. Keadaan Ogi yang tidak mampu, berbagai masalah yang silih berganti timbul, hingga babenya meninggal. Saat itu Ogi pasrah dengan hidupnya, dia memilih bunuh diri, tetapi dia masih diberi kesempatan untuk hidup.

Namun, ternyata bukan hanya Ogi saja yang bermasalah, tetapi Ranjau, Arko, Sania, Juwisa, dan Gala juga memiliki masalahnya masing-masing. Penulis mengemasnya dengan apik dan tidak membosankan. Novel ini seakan-akan membuatku membawaku dalam peristiwa yang aku jalani sehari-hari.

Novel “Kami (Bukan) Sarjana Kertas” adalah novel motivasi yang pertama kali aku baca. Novel ini mengajarkan bahwa kita semua bisa sukses kapan saja dan di mana saja. Tidak perlu kuliah di Universitas ternama dan terbagus di negeri kita ini. Mahasiswa yang berasal dari Universitas biasa pun bisa sukses.

Seharusnya sejak dini kita harus mengasah skill yang kita punya. Membuatnya menjadi semakin berkembang dan dapat kita gunakan ketika ingin melamar pekerjaan.

Apabila ketika orang tua membaca novel ini, dia akan tersadar bahwa anak sebaiknya tidak selalu dipaksakan. Anak bebas untuk memilih apa yang disuka dana pa yang akan dijalaninya. Orang tua seharusnya menjadi seorang sahabat yang membimbing dan mengarahkan mereka supaya tidak salah langkah.

Novel ini juga menyindir perangkat-perangkat Universitas, bahwa tidak seharusnya Mahasiswa dijadikan alat untuk menghasilkan uang. Tidak selamanya mahasiswa berasal dari keluarga yang bergelimang harta, karena sebagian dari mereka yang rela menjual ladangnya demi si anak bisa kuliah. Dan sebaiknya sebagai dosen, apakah baik memanfaatkan itu?

Dalam novel ini, ada satu kutipan yang sangat menyentuh hati, “Tiap orang punya kuota untuk gagal. Santailah, jangan tegang dan takut kalau melakukan kesalahan. Orang-orang yang engkau kira keren, hebat, inspiratif, semua pernah gagal lebih banyak daripada jumlah ketakutan yang ada dalam pikiranmu.” 

Alur ceritanya ringan dan enak untuk dibaca. Tidak susah untuk memahami apa yang dimaksud dalam novel ini. Novel ini dibagi menjadi empat babak, di mana setiap babak dibagi lagi menjadi beberapa episode. Setiap tokoh memiliki episodenya masing-masing.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. Di mana karakter yang dibentuk kuat dan konsisten. Covernya juga lucu dan menarik. Menggambarkan bagaimana si mahasiswa nantinya. Apakah setelah wisuda hanya akan menjadi sarjana kertas atau bukan?

Sekian review book dariku. Terima kasih.


Salam,
Agnes Meilina

Comments

Popular posts from this blog

Review Book - Afeksi by Zaka Bagas Wirawan

Review Book - To All the Boys I've Loved Before by Jenny Han

Review Book - My Brondong Mistake by Titi Sanaria